
Saat ajaran Budha berkembang pesat dan bercampur ajaran Tao dari Lozo dan Kumfuzho pada suku Tayli, Kirmak, Doghan, Qirat, Kitan, Mongol, Naiman, Kati dan diajarkan juga ilmu beladiri purba gulat, gumulan, tendangan, pukulan dan permainan senjata yang disebut kargul (ilmu perkelahian) dibubuhi dengan pernafasan “Kamfa”, dari bahasa Hindustan Kuno yang berarti tenaga terpusat, kemudian terbawa dari Hindustan (India) ke benua Cina saat ia mendirikan kuil Shaolin. Awalnya sudah berkembang ilmu beladiri Kungfu Purba Hindustan di zaman kuno juga di Cina ribuan tahun beladiri berkembang sebelum Budha datang, sejenis silat dengan gaya perkelahian binatang.
Seorang raja mempunyai anak banyak dari benua Hindustan (India) dan puteranya yang keempat San adalah pemeluk ajaran yang taat, maka ditinggalkannya kehidupan istana dan pergi mengembara membaur dengan rakyat untuk merasakan penderitaan mereka dan namanya diubah menjadi Ponitorm, tapi orang-orang Cina menyebutnya Tatmo Sozhu (Budha), pengembaraan Ponitorm sangatlah jauh hingga sampailah
ia ke kerajaan Liang dan rajanya bernama Wu.
Ponitorm sempat hidup di kerajaan Liang beberapa waktu, tetapi karena raja tidak lagi menyukai ajaran yang dibawanya juga pengaruhnya pada orang-orang maka ia diusir, akhirnya Ponitorm pergi menuju Utara hingga menemukan bukit (gua) yang di atasnya ada rumah berhala (kuil), yang sudah rusak. Ponitorm dan pengikut-pengikutnya membangun kembali rumah tersebut hingga menjadi kuil baru. Maka datanglah beramai-ramai umat Budha dari berbagai benua Cina maka terkenallah nama Kaosan Shourim Sze (biara Shourim di bukit Kao).
shourim-kumfu.jpgMenurut dari kitab-kitab Cina Budha, Ponitorm telah semedi menghadap sebuah bukit selama 9 tahun lamanya hingga ia menjadi sakti dan saat ia muncul dari gua pertapaannya ia menulis dua buah kitab, setelah murid-murid Shourim semakin banyak maka orang-orang yang semula tidak senang dengan Shourim mulai mengusik dan mengganggu, belum lagi gangguan dari para penyamun, lalu Ponitorm menyusun gerakan beladiri, gabungan Kamfahana, tinju Hindustan yang dia miliki sebelumnya digabung dengan silat Cina Kumfu Purba yang diatur dengan pernafasan Kamfa bagian Yoga dari Hindustan maka terbentuk “Shourim Kumfu” atau “Shaolin Kungfu”, latihan fisiknya berkitabkan I-Zen-Zang (Dewa Langit dan Dewa Bumi) dan ilmu batinnya berkitabkan I-Zen-Souzin maka berkembanglah aliran Shourim Kumfu itu ke benua Cina, tetapi setelah wihara Shourim dihancurkan oleh kerajaan yang membenci ajarannya, maka pecahlah ajaran Shourim itu menjadi berpuluh-puluh macam dan setiap aliran berkembang sendiri-sendiri dan dipengaruhi oleh alam pertumbuhan alirannya. Aliran Shourim itu ada yang berkembang ke arah Utara di luar benua Cina masuk ke suku Lama dan suku Wigu, dan suku-suku tersebut turun-temurun ke anak cucunya hingga ratusan tahun.
Pada abad ke-12 Hijriyah masuklah da’wah Islam ke suku-suku tersebut. Masuklah mereka ke agama Islam dan ilmu beladiri yang mereka geluti di masa mereka memeluk Budha dibawanya ke dalam Islam tetapi ditinggalkannya segala macam upacara penyembahan, cara bersalaman dengan mengatupkan kedua tangan, lambang-lambang dan segala macam istilah yang berhubungan dengan Budha.
Minggu, 05 Oktober 2008
Zho-Dam: Perkembangan Shurul Khan
SYARAT BELADIRI ISLAMI
Syarat mutlak sebuah beladiri dikatakan islami adalah:
1. Islami dari segi Aqidah
2. Islami dari segi kesehatan
Keterangan:
ISLAMI DARI SEGI AQIDAH
Hal ini berarti bahwa beladiri tersebut haruslah bebas dari syirik, takhayul, khurafat, bid’ah, tasyabuh dll yang membahayakan aqidah. Untuk lebih jelasnya, agar kita terbebas dri segala bentuk perusak aqidah kita, gunakan metode penyelesaian sebagai berikut:
1. Teliti janji yang diucapkan dalam beladiri.
Janji memegang peranan penting dalam beladiri dan akan menjiwai setiap gerak-gerik murid, sebagai muslim tentunya yang kita inginkan adalah jnji yang tidak menyalahi syariat
2. Teliti lambang yang digunakan
Apakah lambang yang digunakan dlm beladiri itu menyalahi aqidah atau tidak?
Contoh :
Swastika (aqidah budha), Bintang segi enam yang terdiri atas dua buah segitiga sama kaki (lambang yahudi), dll
3. Teliti cara penghormatannya
Sikap tangan dalam penghormatan,tanpa kita sadari sering melambangkan akidah agama lain. Berikut kutipan arti sikap tangan (MUDRA) dalam kitab weda prikrama susunan G. Pudja terbitan tahun 1972 halaman 57:
“Tiap arah dengan nama mudra tersendiri dan tiap mudra melambangkan aspek dewata dengan arti dan tujuan tertentu”
Jadi jika kita melakukan suatu sikap penghormatn dengan sikap tangan yang melambangkan dewa tertentu, berarti kita telah menyekutukan Allah secara tidak langsung. Semoga Allah memaafkan ketidak tahuan kita.
4. teliti pernafasan yang digunakan
memahami teknik pernafasan sama pentingnya dengan memahami sikap tangan. Banyak teknik pernafasan yang menggunakan metode pernafasan agama lain yang bagi agama tersebut metode pernafasan itu ada sangkut pautnya dengan ibadah mereka (contoh pernafasan yoga)
5. Teliti cara meningkatkan kemampuan diri
Latihan fisik haruslah benar benar mengerahkan kemampuan fisik kita, jangan sampai kita campuri dengan sesuatu yang akan membuat kita terjebak dalam bid’ah, dan jangan pula terjebak dalam kesyirikan (semisal menggunakan bacaan bacaan tertentu dan upacara tertentu untuk meningkatkan kemampuan)
6. Teliti cara melakukan gerakan jurus/ gerakan dalam beladiri
Rosulullah shollallohualaihi wasallam melaknat wanita-wanita yang menyerupai (dalam berpakaian dan bersikap) pria, dan juga pria-pria yang menyerupai wanita (HR. Abu Daud)
Hasil latihan dalam beladiri akan mempengaruhi fisik dan mental seseorang, jika perempuan mempelajari gerakan yang sebenarnya cocok untuk laki-laki, maka perempuan yang mempelajarinya akan terbawa ke alam laki-laki, tubuhnya akan menjadi kerasberotot bagaikan penarik gerobak, sehingga hal ini akan merusak fitrahnya sebagai perempuan.
Dari cara berpakaian pun laki-laki dan perempuan tidak boleh sama, perempuan harus menggunakan pakaian yang tertutup auratnya namun tidak mempengaruhi gerakannya. Perempuan dan laki-laki tidak dapat berlatih dalam satu tempat yang sama, karena dikhawatirkan akan mengaburkan niat dalam berlatih beladiri
ISLAMI DARI SEGI KESEHATAN
suatu beladiri dikatakan islami dari segi kesehatan apabila beladiri tersebut sesuai dengan fitrah manusia dan tidak mencederai tubuh baik jangka pendek maupun jangka panjang
contoh pelatihan yang salah:
Cara menendang yang salah, yaitu mengunci sendi lutut sehingga dua tulang di bawah tempurung lutut beradu dan mengakibatkan luka sendi
Cara memukul yang salah, yaitu mengunci sendi sikut sehingga melukai tulang hasta
Melakukan pemanasan yang tidak tertib / tidak berkaidah
JANJI THIFAN
1. Sanya (Bahwasannya) aku tidak akan menyekutukan Alloh, aku tidak akan percaya pada takhayul, khurafat, dan tidaklah aku akan berbuat bid’ah dalam syara.
2. Sanya aku akan mentaati hukum Alloh dan Rosul-Nya, sedaya upayaku kujalankan perintah Alloh dan Rosul-Nya, sedaya upayaku kujauhi larangan Alloh dan Rosul-Nya.
3. Sanya hanya kupergunakan ilmu ini pada jalan haq, dan semoga terumpang barahlah aku apakala ilmu ini kupergunakan pada jalan bathil atau aku mengkhianati amanat sehingga ilmu ini jatuh di luar haq.
4. Sanya aku berusaha amar ma’ruf nahi munkar.
5. Sanya aku akan mentaati segala peraturan lanah sepanjang
peraturan itu tiada menyimpang dari hukum Alloh dan Rosul-Nya.
6. Sanya aku tidak akan tekebur, pongah dan congkak.
7. Tidaklah aku akan terpancing, terhasut lawan, lalu tidaklah aku akan mengikuti jalan kekafiran.
8. Aku akan teliti bertindak dan tekun mencahari ilmu.
9. Aku berdaya upaya bersahabat dengan siapapun di dalam batas-batas hukum syara.
10. Aku tidak akan menganut dan berasas ashobiyah.
11. Aku tidak akan mempergunakan lambang-lambang, upacara-upacara, penghormatan yang menyalahi syara’
keterangan = Diambil dari kitab Thifan berbahasa Melayu
Sejarah Thifan Po Khan

Bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (muqaddimah Zho-Dam)
Bela diri Thifan Po Khan merupakan hasil perpaduan beragam aliran bela diri di dataran Saldsyuk sampai dataran Cina. Suku-suku muslim yang tinggal di kawasan itu, seperti Tatar, Wigu, Mandsyu, Kittan dan sebagainya banyak yang sudah memiliki bela diri tradisional.
Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, kaum Muslimin di kawasan ini terus
memegang wasiat Rasulullah itu, mempelajari bela diri yang sesuai dengan kebiasaan dan keahlian masyarakat setempat.
Tersebutlah seorang bangsawan Suku Tayli bernama Je’nan, menghimpun berbagai ilmu bela diri yang ada di dataran Saldsyuk hingga dataran Cina. Bersama dengan pendekar muslim lain, yang memiliki keahlian gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, mereka membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.
Dari Shurul Khan inilah terbentuk aliran Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq serta Payuq. Kesembilan aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, dipilah, dan diteliti, sampai akhirnya menjadi dikal bakal munculnya Thifan Po Khan.
Pada abad ke-16, Thifan Po Khan sudah dikenal di Indonesia. Saat itu, Raja Kerajaan Lamuri, Sultan Malik Muzafar Syah, mendatangkan para pelatih Thifan dari Turki Timur. Para pelatih itu kemudian disebarkan ke kalangan bangsawan di Sumatera.
Pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya mengembangkan Thifan ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang. Selanjutnya bela diri Thifan tersebar ke Sumatera bagian timur dan Riau, yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Tuanku Haji atau Hang Udin juga membawa Thifan ke daerah Betawi dan sekitarnya.
Masuknya Thifan ke Jawa juga merupakan andil orang-orang Tartar yang berdagang ke pulau Jawa. Sambil menjajakan kain, mereka turut serta memperkenalkan Thifan pada masayarakant Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan para pendekar yang berpetualang ke sana. Mereka bahkan sampai di Malaysia dan Thailand Selatan.